Suarageram.co – Kehidupan memprihatinkan dijalani keluarga Abah Jaya bersama sang istri Suarsih, warga kampung Saga Desa Caringin Kecamatan Cisoka Kabupaten Tangerang.

Sepasang suami istri yang kesehariannya jadi tukang pijit dan kuli nyuci ini, tinggal di gubuk yang reyot dan nyaris roboh. Kondisi yang memprihatinkan ini tentunya butuh uluran tangan dari pemerintah maupun para dermawan.

Pantauan awak media di lokasi, gubuk tersebut berantakan, kondisi seolah sudah termakan usia. Nyaris kehidupan keluarga ini luput dari perhatian pemerintah setempat.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Abah Jaya mengandalkan jasa pijit bagi warga yang membutuhkannya, dengan keahlian itu lah si Abah baru mendapat upah seikhlasnya.

“Abah paling mijit orang sekasihnya aja, dikasih ya syukur Alhamdulillah, nggak dikasih gak apa apa,” ungkap Abah, saat ditemui wartawan dikediamannya, pada Rabu (4/2/2026).

Pria paruh baya asli kelahiran Cisoka ini, mengaku lahan yang ia tempati merupakan tanah warisan orang tuanya.

“Abah asli orang sini, alas hak kepemilikan tanah ini adalah girik. Kades juga sudah tau tanah ini depannya kuburan,” ujar Abah.

Selama menjalani kehidupan, Abah mengaku belum ada dari pemerintah setempat yang memberikan bantuan. Ia berharap kepada Pemerintah Daerah dapat membantu renovasi rumah agar layak dihuni.

Yang ditakutkan kata dia, adanya tembok bangunan gedung biliard dan cafe persis disamping rumahnya dikhawatirkan roboh, sebab sebelumnya ujar dia pernah ambruk.

“Pemerintah setempat nggak ada yang datang untuk melihat keadaan abah, pengen rumah ini layak untuk dihuni. Dan yang ditakutkan tembok biliard dan cafe ini roboh lagi, sebab dulu pernah terjadi,” harap Abah.

Lepas dari persoalan rumah tak layak huni milik Abah, awak media pun mempertanyakan soal keberadaan gedung biliard dan cafe di wilayah tersebut.

IMG 20260204 WA0047
Gedung Biliard dan cafe di kampung Saga Desa Caringin Kecamatan Cisoka.

Madsuri, tokoh agama setempat mengaku baru mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah tempat biliard dan cafe, sebelumnya kata dia, gedung tersebut informasi nya untuk material.

Secara spontan sang ustadz tersebut keberatan adanya Biliard dan cafe di wilayah nya, karena akan mengundang keramaian. Dampaknya peredaran Miras pun bisa terjadi.

“Daripada meresahkan masyarakat mending ditutup,” tandasnya.