Suarageram.co – Proses penanaman jagung untuk program ketahanan pangan nasional yang berlokasi di Desa Bantar Panjang Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang dinilai asal tanam.

Pasalnya pada proses penanaman jagung yang dilakukan beberapa bulan lalu itu terkesan mengejar waktu.

Pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang angkat bicara soal itu dengan menyebut lahan jagung gagal panen dikarenakan asal tanam atau tidak dilakukan sebagaimana mestinya.

Kepala DPKP Kabupaten Tangerang melalui Penyuluh Pertanian, Liswan Noerjaman mengatakan jagung yang busuk di lahan tersebut juga dikarenakan tidak ada perlakuan benih harusnya sebelum di tanam.

IMG 20251230 165052
Tanaman Jagung di Bantar Panjang Dinilai Asal Tanam dan Ngejar Waktu, (foto Tamanan jagung di Bantar Panjang/red/Han/suarageram.co)

“Biasanya kalau petani itu di berikan pestisida pas saya kesana itu kena ulat grayak doang itu,” kata Liswan kepada wartawan, Selasa (30/12/2025).

Ia pun membantah pernyataan Kapolres yang menyebut gagal panen karena tengah tahapan pembersihan lahan, pengolahan tanah, pemupukan dasar, penanaman hingga pemeliharaan tanaman, dilaksanakan bertahap menyesuaikan kondisi dan kemampuan lahan.

Seharusnya, kata Liswan, tanahnya itu diolah dan di permentasi terlebih dahulu jangan langsung ditanam jagung.

“Kemarin terlalu di geber tidak ada perementasi dulu gitu yah. Mengejar waktu mau ada kedatangan wakil presiden,” terangnya.

Meski begitu Liswan menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan jagung tumbuh buruk, diantaranya Cuaca Ektrem, yang kadang hujan dan kadang panas.

Sehingga, seluruh tanaman jagung mudah terkena Jamur. Namun yang terutama benihnya dari awal tidak ada perlakuan, perendaman benih sebelum tanam.

“Dan setelah terjangkit jamur itu cuacanya extreme dan mempercepat penyebaran jamur,” pungkasnya.

Sebelumnya, aktivis Tangerang Gandi Sadewa pun menyoroti persoalan tersebut, Gandi menyebut program tersebut gagal total di lapangan dan patut diduga hanya menghabiskan anggaran negara tanpa hasil nyata. Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kondisi tanaman jagung kering, menguning, dan tidak berkembang.

“Ini gagal total. Kalau jagungnya mati seperti ini, lalu di mana ketahanan pangannya? Yang hidup justru acaranya, bukan tanamannya,” katanya, Sabtu (27/12/2025).

Seremoni Negara, Realitas Lapangan Memprihatinkan.

Gandi menilai program tanam jagung lebih menonjolkan agenda simbolik dan pencitraan pejabat, sementara aspek teknis pertanian dan keberlanjutan sama sekali diabaikan. Menurutnya, kegiatan ini hanya berhenti pada penanaman awal tanpa pengawalan hingga panen.

“Negara hadir lengkap, pejabat datang, kamera menyala. Tapi setelah itu lahan dibiarkan. Kalau hasilnya mati seperti ini, publik berhak menyebut program ini gagal,” ucapnya.

Anggaran Besar, Hasil Nol

Meski angka anggaran tidak pernah dibuka secara rinci, Gandi menegaskan mustahil kegiatan skala nasional dengan pelibatan banyak institusi negara tidak menyedot anggaran besar. Mulai dari pengadaan benih, pupuk, alat, logistik, hingga biaya kegiatan.

“Kalau uang rakyat dipakai tapi jagungnya mati, itu bukan sekadar gagal teknis. Itu pemborosan anggaran. Dan pemborosan ini bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan publik,” tegasnya.