Suarageram.co – Program budidaya penanaman jagung untuk mendukung ketahanan pangan di Desa Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, saat ini memasuki tahap evaluasi teknis.
Kegiatan itu merupakan hasil kerja sama antara Polda Banten dan Polresta Tangerang dengan PT MSD Corpora Internasional itu terus dimonitor untuk memastikan keberlanjutan dan perbaikan hasil tanam.
Total luas areal program mencapai sekitar 50 hektare, dengan luas tanam aktif kurang lebih 20 hektare. Pelaksanaan budidaya dibagi ke dalam tiga blok, yakni Blok A, Blok B, dan Blok C.
Tahapan pembersihan lahan, pengolahan tanah, pemupukan dasar, penanaman hingga pemeliharaan tanaman, dilaksanakan bertahap menyesuaikan kondisi dan kemampuan lahan. Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pertumbuhan tanaman jagung pada fase awal memang belum menunjukkan hasil optimal.
“Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh karakteristik lahan berupa tanah merah kekuningan yang relatif minim unsur hara, minim lapisan top soil, serta bercampur dengan batuan padas,” ujar Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, Minggu (28/12/2025).
Faktor lain yang juga turut memengaruhi adalah curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Hal itu turut berdampak pada terjadinya erosi tanah dan hanyutnya sebagian unsur hara, serta pupuk yang telah diaplikasikan.
Kondisi demikian diduga menyebabkan pertumbuhan tanaman yang belum seragam. Sebagian tanaman tumbuh pendek. Serta ukuran tongkol jagung yang masih relatif kecil dan tidak merata.
Kondisi itu merupakan bagian dari tantangan teknis budidaya di lahan terbuka. Bukan indikator berhentinya atau gagalnya program.
“Bahwa program budidaya jagung ini tidak berhenti pada satu siklus tanam,” kata Indra Waspada.
Oleh karena kondisi itu, sejumlah langkah tindak lanjut telah disiapkan untuk perbaikan berkelanjutan. Langkah itu di antaranya penataan ulang lahan dengan membagi area tanam menjadi dua blok utama masing-masing seluas sekitar 10 hektare.
Kemudian membangun sistem drainase dan guludan untuk mengurangi genangan air dan erosi. Serta pembentukan lapisan top soil melalui penambahan kompos dan tanah urugan.
Tidak hanya itu, telah direncanakan pula pembuatan embung sebagai sarana penampungan dan pengelolaan air. Serta membangun kandang ternak terintegrasi untuk mendukung sistem pertanian terpadu.
“Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan mendukung produktivitas tanaman pada fase tanam berikutnya,” ujar Indra Waspada.
Dengan mengedepankan pendekatan evaluatif dan perbaikan, program tanam jagung ditempatkan sebagai proses jangka menengah hingga panjang. Tantangan awal yang dihadapi dijadikan dasar perencanaan teknis agar hasil budidaya ke depan lebih optimal dan berkesinambungan.


Tinggalkan Balasan