Suarageram.coKetua umum LSM PIK RATA Saidi turut berkomentar seputar permasalahan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik warga di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, yang notabene lokasi tersebut tak jauh dari pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang.

Gubuk reyot yang diketahui milik nenek Mursani warga kampung Matagara RT 02 RW 02 Desa Matagara Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang itu, kata dia, saat ini menjadi buah bibir yang hangat diperbincangkan. Sebagai pegiat sosial kontrol, ia pun mempertanyakan efektivitas kontroling pemerintah setempat.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.25 768x576 1
Miris, Nenek Mursani 75 Tahun Huni Gubuk Reyot Tak Jauh Dari Puspemkab Tangerang, (foto gubuk reyot milik nenek Mursani di Desa Matagara Kecamatan Tigaraksa/red/Han/suarageram.co)

Saat ini kata dia, pihak Pemerintah setempat baik itu Desa Matagara maupun pihak Kecamatan Tigaraksa konon informasi nya sudah mengagendakan rumah Reyot milik nenek Mursani bakal dibangun dalam waktu dekat ini. Saidi pun mempertanyakan efektivitas kontroling pemerintah setempat, terlebih terhadap kondisi warganya selama ini.

Dia bilang, fungsi pemantauan atau monitoring dan verifikasi data Rutilahu seringkali dipertanyakan kualitasnya, apakah sudah mencakup seluruh wilayah atau belum.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.24 768x576 1
Kondisi ruang pada gubuk reyot milik nenek Mursani di Desa Matagara Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang.

Terlepas dari itu, Ketum LSM PIK RATA ini, mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh sosial kontrol yakni sejumlah media online yang membuka tabir tersebut. Kendati begitu Saidi bilang, pejabat setempat baru melek usai viral diberbagai plafon media online.

Kalau tidak sambung dia, entah sampai kapan gubuk reyot milik nenek Mursani warga Desa Matagara Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang Banten itu bisa menjadi layak huni.

“Mestinya pejabat itu berikan apresiasi atau penghargaan kepada awak media yang sudah membuka tabir itu, saya menduga selama ini pejabatnya tidur, sebab rumah hunian nenek Mursani itu, saya rasa sudah bertahun tahun dengan kondisi seperti itu,” ungkap ketua LSM PIK RATA Saidi saat dimintai tanggapannya soal kondisi nenek Mursani, Selasa (17/2/2026).

Pertanyaannya imbuh Saidi, kenapa baru sekarang setelah viral diberbagai media online, baru bergerak, lantas selama ini kemana saja pejabat wilayah.

“Kok baru melek sekarang,” gumam dia.

Lebih lanjut ia juga berharap pihak pemerintah Daerah baik Desa maupun Kecamatan tidak anti kritik dan saran meskipun hal itu melalui media online atau sosial media.

“Berharap respon positif terhadap sosial kontrol baik itu LSM maupun awak media, jangan anti kritik atau emosional yang dikedepankan,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, selain persoalan gubuk reyot, nenek Mursani mengaku tidak pernah tersentuh oleh bantuan apapun dari pihak pemerintah setempat. Hal itu pun juga menjadi curahan hati nenek usia 75 tahun itu kepada awak media saat disambangi pada Sabtu (14/2/2026) lalu.

Menurutnya, pihak Pemerintah Desa Matagara, maupun pihak Kecamatan Tigaraksa selama ini belum pernah menengok kondisinya, baik itu soal perekonomiannya mau kondisi huniannya.

“Pengennya ya ada bantuan dari pemerintah, tapi nggak ada yang datang,” ujarnya.