Suarageram.coMiris, tak jauh dari kawasan Puspemkab Tangerang, Mursani (75), seorang nenek usia senja tinggal di gubuk reyot, dengan kondisi yang sangat memprihatikan.

Nenek Mursani merupakan warga Kampung Matagara RT 02 RW 02, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, saat disambangi awak media pada Sabtu (14/2/2026), Nenek tua yang kini hidup bersama seorang cucu itu mengaku tak pernah tersentuh oleh bantuan apapun dari pihak Pemerintah.

Meskipun kata dia, pernah diusulkan untuk program bedah rumah layak huni, namun program itu hingga kini tak kunjung terwujud.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.24 768x576 1
Kondisi ruang pada gubuk reyot milik nenek Mursani di Desa Matagara Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang.

Apakah hal itu hanya sekedar PHP saja dari pihak yang mengajukan nya, entahlah, namun yang jelas kata Nenek tua itu, hingga saat ini belum ada kabarnya.

“Saudara yang bantu, karena katanya emang rumah ini udah mengkhawatirkan gitu. Katanya si ya gitu, gak ada kabar ya mungkin ditolak atau gimana gitu kurang tau” ungkap nenek Mursani.

Pantauan awak media di lokasi, terlihat sejumlah tiang bambu yang menopang atap rumah milik nenek Mursani, bahkan terlihat struktur atap saling terikat hanya dengan tali yang terbuat dari kulit bambu.

Berdasarkan pengakuan nenek Mursani, sebelumnya kondisi rumah miliknya tersebut justru lebih parah dan nyaris roboh.

Namun beruntung, sejumlah tetangga perduli dan membantu untuk memperbaiki, dengan memasang penopang bambu dan merekatkan struktur atap menggunakan tali.

“Tadinya lebih parah, tapi tetangga yang khawatir dan perduli akhirnya membantu memperbaiki” ungkap nenek Mursani kepada awak media.

Bukan hanya nyaris roboh, rumah yang terletak di Kecamatan Tigaraksa tersebut justru membuat penghuninya merasa semakin waspada.

Hal itu karena kondisi rumah tersebut yang tanpa plafon, hingga kabel berseliweran di setiap ruangan yang berpotensi terjadi hubungan arus pendek listrik dan bisa mengancam keamanan penghuninya.

Air hujan pun tak dapat dibendung, hingga nenek Mursani harus menyiapkan sejumlah wadah untuk mengantisipasi, terlebih ketika musim penghujan datang.

Yang mencengangkan lagi, ketika melihat lokasi kamar mandi, justru dapat dibilang terbuka, karena hanya dilindungi oleh bilik-bilik transparan yang dapat dilihat dengan jelas dari luar.

Bahkan tambalan di dinding bilik yang berusaha menutupi kamar mandi tersebut, tidak dapat menutupi sepenuhnya dinding yang sudah tidak utuh.

Tak hanya itu, lantai di gubuk itu pun sudah tidak utuh dan bercampur dengan tanah, terlebih saat tetesan air hujan turun menembus gubuk tersebut menjadi licin.

Dilain sisi, pihak Pemerintah Desa Matagara maupun pihak Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang belum dapat dimintai keterangan meskipun sejumlah berita dari berbagai media online telah diunggah perihal gubuk reyot milik nenek Mursani tersebut.

Namun besar harapan publik, sekira nya pihak Pemkab Tangerang melalui Pemerintah Desa dan Kecamatan untuk segera melakukan upaya nyata dalam memberikan kenyamanan bagi warga yang saat ini sangat membutuhkan.